Masih ingatkah Anda pertama kali menggunakan smartphone layar sentuh, melakukan panggilan video jernih lintas negara, atau membuka pintu mobil tanpa mengunci secara manual? Pada momen-momen pertama itu, perasaan takjub luar biasa sering kali muncul. Rasa-rasanya seperti sedang memegang sepotong masa depan di telapak tangan sendiri.
Namun, coba perhatikan apa yang terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian. Layar sentuh yang dulu terasa ajaib kini diusap tanpa rasa kagum. Fitur panggilan video yang dulu terasa seperti film sains fiksi kini menjadi rutinitas rapat yang kadang malah melelahkan.
Fenomena ini bukan sekadar perasaan pribadi Anda, melainkan sebuah siklus psikologis, psikologi konsumen, dan dinamika industri yang sangat nyata. Lantas, mengapa sesuatu yang pernah dianggap sebagai puncaknya kecanggihan bisa dengan begitu cepat terdegradasi menjadi hal yang biasa-biasa saja?
Hedonic Treadmill: Alasan Psikologis Mengapa Kita Cepat Terbiasa
Dalam ilmu psikologi, ada sebuah konsep terkenal yang dinamakan hedonic treadmill atau adaptasi hedonik. Konsep ini menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk kembali ke tingkat kebahagiaan atau kepuasan standar setelah mengalami kejadian positif maupun negatif.
Ketika sebuah inovasi anyar hadir di hidup Anda, otak meresponsnya dengan lonjakan kebahagiaan dan kekaguman. Namun seiring berjalannya waktu, penggunaan yang berulang membuat otak menganggap teknologi tersebut sebagai garis dasar baru (new baseline). Apa yang tadinya merupakan ‘mewah’ berubah standar menjadi ‘kebutuhan dasar’. Ketika standar hidup meningkat, ambang batas kekaguman kita pun ikut bergeser lebih tinggi.
Komoditisasi dan Demokrasi Akses Teknologi
Pada tahap awal peluncuran, sebuah inovasi baru biasanya dibanderol dengan harga tinggi dan diproduksi dalam jumlah terbatas. Hanya kalangan tertentu atau early adopter yang dapat menikmatinya. Faktor kelangkaan dan eksklusivitas inilah yang memberikan aura canggih serta istimewa.
Namun, industri teknologi bergerak sangat cepat. Melalui efisiensi manufaktur, persaingan pasar, dan peniruan desain oleh kompetitor, teknologi tersebut mengalami proses komoditisasi. Perangkat atau fitur yang semula eksklusif kini diproduksi secara massal dengan harga terjangkau. Begitu semua orang di sekitar Anda menggunakan hal yang sama, persepsi kecanggihan itu pun perlahan pudar menjadi hal yang lumrah.
Efek Lawan Arah: Efisiensi Melahirkan Ketergantungan
Ada pepatah unik di dunia teknologi: “Teknologi terbaik adalah teknologi yang tidak lagi terasa seperti teknologi.”
Ketika sebuah produk berhasil menyatu dengan mulus ke dalam aktivitas sehari-hari tanpa hambatan, teknologi itu justru menjadi “tidak terlihat”. Kita tidak lagi berpikir betapa rumitnya infrastruktur internet serat optik atau satelit saat mengirim pesan singkat. Kita hanya berasumsi pesan itu harus sampai dalam hitungan detik.
Kehadirannya baru menyengat perhatian kita bukan saat berfungsi dengan baik, melainkan saat terjadi gangguan atau koneksi terputus.
Fenomena Pergeseran Standar Generasi
Faktor usia dan latar belakang pertumbuhan juga memegang peranan besar dalam membentuk cara pandang kita terhadap kecanggihan.
Generasi Transisi
Bagi mereka yang tumbuh di era analog atau awal era digital, lompatan ke teknologi modern dipenuhi dengan pembanding yang nyata. Mereka ingat betapa sulitnya mencari informasi tanpa mesin pencari atau betapa lamanya menunggu cetak foto fisik. Bagi kelompok ini, rasa kagum terhadap perubahan jauh lebih kuat terasa.
Generasi Digital Native
Sebaliknya, bagi generasi muda yang lahir saat ponsel pintar, layanan streaming, dan koneksi internet super cepat sudah menjadi hal lazim, semua itu bukanlah kecanggihan—melainkan realitas dasar kehidupan. Mereka tidak menganggap ketersediaan internet instan sebagai keajaiban, melainkan sebagai norma dasar yang memang seharusnya ada.
Apa Dampaknya bagi Inovasi di Masa Depan?
Siklus cepat bosannya manusia terhadap kecanggihan ini sebenarnya memiliki dua sisi mata uang:
- Sisi Positif: Fenomena ini memicu para pengembang, ilmuwan, dan perusahaan teknologi untuk tidak pernah berhenti berinovasi. Mereka dipaksa terus mengeksplorasi batas baru—seperti kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, hingga antarmuka otak-komputer—demi menciptakan kejutan baru bagi pasar.
- Sisi Negatif: Munculnya ekspektasi yang terkadang tidak realistis dan rasa tidak pernah puas (burnout) dari konsumen, di mana pembaruan yang sifatnya bertahap (incremental update) sering kali dicap membosankan atau kurang berinovasi.
Pada akhirnya, perubahan persepsi ini adalah bukti bahwa peradaban manusia terus bergerak maju. Hal-hal ajaib yang kita nikmati hari ini hanyalah pondasi biasa untuk kejutan-kejutan besar yang siap hadir di masa depan.
